Growol Khas Kulon Progo

Growol Khas Kulon Progo – Bagi Kawan GNFI yang tinggal atau berasal berasal dari Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, dan area sekitarnya, kemungkinan tidak asing bersama makanan tradisional yang satu ini. Makanan ini terbuat berasal dari ketela atau singkong yang banyak tumbuh di sana. Kuliner legendaris yang terbuat berasal dari singkong itu bernama growol.

Karena berbahan basic singkong, sudah pasti growol mempunyai takaran karbohidrat yang mengenyangkan.

pada tahun 1814 di dalam Serat Centhini Jilid V, Pupuh 349 Bait 25-29 diceritakan, makanan sayur besengek yang pada umumnya disajikan bersama nasi. Oleh masyarakat Kulon Progo, penyajiannya diubah jadi disajikan bersama growol.Pasang Bola

Di jaman lalu, makanan tradisional ini jadi andalan bagi masyarakat desa di Kulon Progo untuk menghilangkan rasa lapar. Khususnya bagi para petani, growol dijadikan sebagai pengganti nasi selagi mereka memanen padi di sawah atau selagi terjadi musim paceklik (krisis pangan).

Rasanya yang hambar dan sedikit gurih, sebabkan growol biasa disajikan bersama sayur besengek, yakni sayur kuah yang terdiri berasal dari tempe, daun so, dan diberi sedikit santan. Terkadang termasuk bersama pentho (olahan kelapa muda dan telur) atau kethak yang merupakan olahan endapan minyak kelapa.

Keunikan lain berasal dari growol ada pada aromanya. Dikutip berasal dari Okezone.com, seorang pembuat dan penjaja growol di Pasar Sentolo Kulon Progo yang bernama Endah mengatakan, growol memang sama juga bersama aroma kecing. “Kalau growol tidak kecing, bukan growol. Konsumen malah bertanya kalau tidak kecing,” ujarnya.

Aroma kecing dihasilkan dikarenakan di dalam sistem pembuatannya singkong wajib direndam sepanjang tiga sampai empat hari. Dari singkong itu akan mengeluarkan bau yang tidak sedap atau disebut kecing.

Namun, meski growol mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Makanan khas Kulon Progo, Yogyakarta ini tetap banyak diminati masyarakat. Alasannya, lantaran growol dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan beraneka penyakit pencernaan seperti maag dan diare serta termasuk baik dikonsumsi oleh para penderita diabetes.

Khasiat Growol

Berdasarkan jurnal yang berjudul Potensi Makanan Fermentasi Sebagai Makanan Fungsional karya Mutiara Nugraheni, growol yang sudah mengalami fermentasi alami sepanjang sistem perendaman itu, menumbuhkan mikroba Coryneform, Streptococcus, Bacillus, Actinobacter yang sesudah itu diikuti oleh Lactobacillus dan yeast sampai akhir fermentasi. Zat-zat yang terdapat di dalam growol itu, terlalu berfungsi bagi kebugaran pencernaan.

Pada sebuah penelitian epidemiologi yang melibatkan kurang lebih 472 anak berusia 1-5 tahun di Kabupaten Kulon Progo, menghasilkan information yang menunjukkan, terdapatnya pertalian yang signifikan antara frekuensi mengonsumsi growol bersama angka kejadian diare.

Semakin tinggi frekuensi seorang anak mengonsumsi growol. Maka akan tambah kecil kemungkinan terkena diare. Untuk dapat menghambat terjadinya diare, frekuensi mengonsumsi growol yang direkomendasikan sebaiknya sedikitnya 6,4 kali/minggu atau rutin mengkonsumsinya tiap tiap hari.

Keterangan lain berkunjung berasal dari dosen program studi sarjana gizi berasal dari STIKES Panti Rapih, Yogyakarta, Fransisca Shinta Maharini. Menurutnya, growol yang memang sudah populer berpotensi sebagai pengganti nasi, terlalu baik dikonsumsi bagi penderita diabetes.

Dengan indeks glikemik yang rendah, panganan tradisional tersebut berpotensi untuk jadi alternatif di dalam rangka terapi atau pencegahan diabetes melitus.

Namun, yang wajib diperhatikan berasal dari growol adalah langkah pembuatannya yang terlalu tradisional. Maka berasal dari itu wajib terdapatnya standarisasi di dalam pembuatannya.

“Karena bersama standarisasi pembuatan growol yang baik pasti akan diketahui growol yang baik itu kualitasnya seperti apa,” kata Shinta yang merupakan salah satu pemenang Nutrifood Research Center Grant periode 2019-2020 kategori dosen atau peneliti.
Cara Membuatnya

Growol merupakan panganan tradisional yang terbuat berasal dari umbi ketela pohon, ubi kayu, atau singkong (manihot utilissima).

Alasan menggunakan singkong disinyalir dikarenakan kondisi alam Kulon Progo yang mempunyai areal tanah bersama takaran air yang rendah. Hal itu sangat mungkin cuma singkong yang sesuai jadi sumber bahan baku pembuatan growol yang baik.

Tekstur singkong atau ketela yang keras, memengaruhi kualitas berasal dari growol. Dibutuhkan ketela yang keras untuk sebabkan growol yang memiliki kwalitas baik. Sebab kalau ketela yang digunakan mempunyai kandungan banyak air, maka hasil growol akan lebih cepat basi dan bau.

Berkaitan bersama langkah sebabkan makanan ini, pertama ketela atau singkong dikupas kulitnya. Kemudian, singkong yang sudah dikupas kulitnya, direndam sepanjang tiga sampai empat hari berturut-turut di di dalam bak besar.

Untuk menghilangkan bau kecutsetelah direndam, lalu singkong dicuci tujuh sampai sepuluh kali sampai bersih sambil dipisahkan berasal dari serat-serat kasar.

Selanjutnya dimasukan ke di dalam karung atau bahan lain yang sangat mungkin untuk ditekan agar takaran airnya berkurang. Setelah takaran airnya berkurang, sesudah itu di giling dan dikukus sampai matang. Lama pengukusan kurang lebih memerlukan selagi kurang lebih 15 menit. Proses terakhir, umumnya growol dicetak menggunakan ceting atau bakul berasal dari bambu yang sudah dibikin bersama dukuran khusus.

Sebagai makanan tradisional, growol sudah terdaftar di dalam Warisan Budaya Takbenda Domain Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional Tahun 2019, dikarenakan itu ia patut dilestarikan.

Apalagi kalau menyaksikan beraneka manfaatnya, growol adalah makanan tradisional yang terlalu potensial untuk jadi alternatif sumber pangan tak hanya nasi. Tambah lagi, ia termasuk terlalu baik untuk kebugaran pencernaan. Bagaimana? Apakah Kawan GNFI tertarik untuk mencobanya?

Author: publisher

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *