Nasi Kebuli Terakhir di RM Puas Pekalongan

Nasi Kebuli Terakhir di RM Puas Pekalongan  РRM Puas adalah rumah makan lama yang terlalu kondang di Pekalongan, terletak di Jl Surabaya, di sebuah area yang kita sebut bersama dengan kampung Arab. Meski dulu mengenyam jaman kecil di Pekalongan, namun aku belum dulu masuk ke rumah makan ini. Kasihan ya? Orangtua aku terlalu jarang mengajak kita makan diluar. Ibu aku rajin memasak. Ketenaran RM Puas hanya aku dengar dari teman-teman, sejak kecil dulu, sampai saat ini telah dewasa, eh telah agak tua.
Ketika berkesempatan ke Pekalongan lebih dari satu hari lalu, aku segera menempatkan RM Puas di urutan pertama. Antara dendam dan penasaran gitu. Maka ketika sore hari kita tetap di Purwokerto, aku pun rewel minta segera berangkat ke Pekalongan. Sudah terbayang di jalur kita dapat terjebak macet lama dikarenakan bersamaan bersama dengan arus balik. Mengapa tidak makan besoknya saja? Karena aku telah memesan hotel yang telah terhitung sarapan, sedang siangnya lanjut ke Semarang. Masa iya perut berkenan dijejali nasi kebuli?
Keajaiban terjadi. Kemacetan tidak ada! Bahkan kode merah di waze yang menandakan tersedia kemacetan di jembatan Comal tidak terlihat sama sekali. Lancar sampai Pekalongan. Namun lantaran dari Purwokerto telah sore, sampai di Pekalongan telah agak malam. Tepat di depan RM Puas jam 19.15. Sempat siap kecewa bahwa RM Puas tidak buka dikarenakan dari jauh terlihat sepi.
Ternyata di plang depan tercantum “Tutup Jam 20.00.”
Pantas saja telah tidak tersedia pengunjung selain kami. Saya bergegas ke di dalam sampai lupa tidak memfoto apapun.

Ketika memesan, segera aku sebut nasi kebuli. Wah ternyata terlalu serba hampir semua, dikarenakan nasi kebulinya yang kondang itu tinggal satu piring. Beberapa menu terhitung telah habis. Jadi, aku pesan saja seluruh menu yang tetap tersedia tiap-tiap satu piring. Hahahaaa…. Makannya pun kita share, yang berkenan silahkan comot dari piring manapun, nggak perlu piring sendiri-sendiri. Rahat! Semua kebagian!
Ooo menjadi begitu rasanya nasi kebuli? Enak, namun menurut aku citarasa kambingnya tidak cukup terasa. Atau bisa saja itu yang disukai orang-orang ya? Mungkin orang-orang lebih suka citarasa yang demikian. Saya aja yang dikarenakan sering makan daging kambing bersama dengan olahan minimal menjadi terasa layaknya itu.
Menu rumah makan jadul ini sesungguhnya sayang untuk dilewatkan jikalau ke Pekalongan.
Dengan harga yang terjangkau, teman-teman terhitung dapat nikmati macam-macam hidangan khas Pekalongan, layaknya megono. Tapi ingat, jikalau kesini jangan kemalaman dikarenakan nasi kebulinya cepat habis dan jam 20.00 telah tutup.

Author: publisher

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *